Senin, 04 Juni 2012

titrasi oksidimetri

TITRASI OKSIDIMETRI

Tujuan : Menentukan senyawa reduktor

Prinsip : Berdasarkan reaksi oksidasi-reduksi dengan menggunakan KMnO4 sebagain indicator.

Syarat dalam titrasi oksidimetri :

1.      Harus ada satu reaksi pada saat tertentu
2.      Reaksi harus sudah berkesudahan
3.      Harus ada indicator untuk menentukan titik akhir titrasi


Jenis – jenis titrasi oksidasi

1.      titrasi dengan oksidator                                                                                                         Contoh : KMnO4 ( pada titrasi permanganometri)                                                                                                                                                                                                                I2 (titrasi iodimetri dan iodometri)                                                                                                                                  KCr2O7 ( titrasi dikromatometri)                                                                                                                                                                                                                          
2.      titrasi dengan reduktor                                                                                                    Ccntoh : Fe²+ → Fe³+
3.      titrasi tidak langsung Contoh : Idiometri KI03 + KI + H+ →I2

Indikator Titrasi Redoks

1.      Auto indikator ( indicator sendiri)                                                                                                                                  missal : KMnO4 → Merah muda
2.      Indikator spesifik                                                                                                                 Contoh : kanji untuk Iodium → biru dengan cara diteteskan
3.      Indikator Redoks Contoh : Feroin, metilen biru → warna saat oksidasi dan reduksi berbeda

titrasi iodometri


TITRASI IODOMETRI
Tujuan :
             Menentukan kadar CuSO4 dalam sample
Titrasi iodometri adalah titrasi dengan I2 yang dihasilkan suatu reaksi dengan larutan Na2S2O3 ( Natrium Tiosulfat)

Reaksi :
                        Zat oksidator + KI + H+ → K+ + I2 + ……
                                    I2 + Na2S2O3 → 2NaI + Na2S4O6
Titrasi Iodometri dan Iodimetri berlangsung dalam suasana asam.
Indikator yang digunakan adalah : Amylum, CCl4 dan CHCl3.
Titik akhir titrasi Iodometri
1.      Warna biru hilang, jika digunakan amylum sebagai indikator.
2.      Warna ungu hilang, jika digunakan CCl4 atau CHCl3 sebagai indicator.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan titrasi Iodometri adalah sebagai berikut:
Penambahan amilum sebaiknya dilakukan saat menjelang akhir titrasi, dimana hal ini ditandai dengan warna larutan menjadi kuning muda (dari oranye sampai coklat  akibat terdapatnya I2 dalam jumlah banyak), alasannya kompleks amilum-I2 terdisosiasi sangat lambat akibatnya maka banyak I2 yang akan terabsorbsi oleh amilum jika amilum ditambahkan pada awal titrasi, alasan kedua adalah biasanya iodometri dilakukan pada media asam kuat sehingga akan menghindari terjadinya hidrolisis amilum
Titrasi harus dilakukan dengan cepat untuk meminimalisasi terjadinya oksidasi iodide oleh udara bebas. Pengocokan pada saat melakukan titrasi iodometri sangat diwajibkan untuk menghindari penumpukan tiosulfat pada area tertentu, penumpukkan konsentrasi tiosulfat dapat menyebabkan terjadinya dekomposisi tiosulfat untuk menghasilkan belerang. Terbentuknya reaksi ini dapat diamati dengan adanya belerang dan larutan menjadi bersifat koloid (tampak keruh oleh kehadiran S).
S2O32-  +  2H+  -> H2SO3 + S
Pastikan jumlah iodide yang ditambahkan adalah berlebih sehingga semua analit tereduksi dengan demikian titrasi akan menjadi akurat. Kelebihan iodide tidak akan mengganggu jalannya titrasi redoks akan tetapi jika titrasi tidak dilakukan dengan segera maka I- dapat teroksidasi oleh udara menjadi I2.
 

titrasi iodimetri


TITRASI IODIMETRI

Tujuan :
              Menentukan kadar vitamin C dalam sample

Titrasi Iodimetri adalah titrasi redoks yang menggunakan larutan standar iodium ( I2 ) sebagai  titran dalam suasana netral atau sedikit asam. Larutan iodium dibuat dengan cara menimbang I2 murni kemudian dilarutkan dalam larutan KI atau KIO3.

Reaksi :
                       
                        Zat Reduktor + I2 → 2I¯ + ……...

Titik akhir titrasi iodimetri

  1. Terbentuk warna biru,jika digunakan amylum sebagai indikator
  2. Terbentuk warna ungu, jika digunakan CCl4 atau CHCl3 sebagai indikator

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan titrasi Iodometri adalah sebagai berikut:
Penambahan amilum sebaiknya dilakukan saat menjelang akhir titrasi, dimana hal ini ditandai dengan warna larutan menjadi kuning muda (dari oranye sampai coklat  akibat terdapatnya I2 dalam jumlah banyak), alasannya kompleks amilum-I2 terdisosiasi sangat lambat akibatnya maka banyak I2 yang akan terabsorbsi oleh amilum jika amilum ditambahkan pada awal titrasi, alasan kedua adalah biasanya iodometri dilakukan pada media asam kuat sehingga akan menghindari terjadinya hidrolisis amilum
Titrasi harus dilakukan dengan cepat untuk meminimalisasi terjadinya oksidasi iodide oleh udara bebas. Pengocokan pada saat melakukan titrasi iodometri sangat diwajibkan untuk menghindari penumpukan tiosulfat pada area tertentu, penumpukkan konsentrasi tiosulfat dapat menyebabkan terjadinya dekomposisi tiosulfat untuk menghasilkan belerang. Terbentuknya reaksi ini dapat diamati dengan adanya belerang dan larutan menjadi bersifat koloid (tampak keruh oleh kehadiran S).
S2O32-  +  2H+  -> H2SO3 + S
Pastikan jumlah iodide yang ditambahkan adalah berlebih sehingga semua analit tereduksi dengan demikian titrasi akan menjadi akurat. Kelebihan iodide tidak akan mengganggu jalannya titrasi redoks akan tetapi jika titrasi tidak dilakukan dengan segera maka I- dapat teroksidasi oleh udara menjadi I2.

titrasi argentometri


Titrasi Argentometri


Titrasi Argentometri berdasarkan reaksi pembentukan endapan

Ag+   +  X-  → AgX  
Prinsip adalah reaksi pengendapan analit oleh titran
Titrasi argentometri merupakan teknik khusus yang digunakan untuk menetapakan perak dan senyawa halida. Penetapan kadar zat analit didasari oleh pembentukan endapan. Empat teknik argentometri telah dikembangkan yaitu metode Mohr, Volhard, Fajans dan Liebig.
Mohr mengembangkan titrasi argentometri untuk menetapkan kadar klorida dan bromida dalam suasana netral. Larutan standar yang dipergunakan adalah perak nitrat, dengan indikator kalium kromat (K2CrO4). Pada penambahan perak nitrat akan terbentuk endapan berwarna putih sampai mencapai titik ekivalen, penambahan sedikit saja perak nitrat akan menyebabkan terjadi endapan merah yang berasal dari perak kromat. Hal ini mengindikasikan bahwa seluruh klorida atau bromida sudah bereaksi.
Teknik Volhard, dikembangkan untuk menetapkan kadar perak, sedangkan Fajans dan Liebig kedua-duanya mengembangkan teknik penetapan titik ekivalensi titrasi. Fajans mnegembangkan indikator adsorbsi, dimana warna teradsorpsi pada permukaan endapan sehinga terjadi perubahan warna pada endapan sebagai titik akhir titrasi. Sedangkan Liebig terbentuknya larutan yang kurah karena adanya senyawa kompleks sianida.


Pada umumnya titrasi argentometri dapat dibedakan atas tiga metode berdasarkan indicator yang dipakai dalam titrasi tersebut, yaitu:
Indikator kalium kromat K2CrO4
Titrasi argentometri dengan menggunakan indicator ini biasa disebut sebagai argentoetri dengan metode Mohr. Ini merupakan titrasi langsung titrant dengan menggunakan larutan standar AgNO3. Titik akhir titrasi diamati dengan terbentuknya endapan Ag2CrO4 yang brwarna kecoklatan.
Indikator Fe3+
Titrasi argentometri dengan indicator ini disebut sebagai titrasi argentometri dengan metode volhard. Titrasi ini merupakan titrasi tidak langsung dimana larutan standar AgNO3 ditambahkan secara berlebih dan kelebihan ini dititrasi dengan larutan standart SCN-.
Indikator adsorbsi
Titrasi argentometri dengan indicator adsorbsi disebut sebagai titrasi argentometri dengan menggunakan metode Fajans. Indikator yang dipakai adalah indicator adsorbsi Dimana indicator ini akan berubah warnanya jika teradsorbsi pada permukaan endapan.
Selain menggunakan teknik diatas maka titrasi argentometri juga dapat dilakukan dengan menggunakan indicator yang berupa indicator electrode. Plot antara Esel dengan jumlah titran akan dapat diperoleh kurva titrasi dengan grafik ini maka kita nantinya dapat menentukan titik akhir titrasi.

titrasi acidimetri-alkalimetri


TITRASI ACIDIMETRI-ALKALIMETRI
Acidimetric dalah titrasi dengan menggunakan larutan baku asam (sample basa),sedangkan titrasi alkalimetri dalah titrasi dengan menggunakan larutan baku basa (sample asam).
      


Asidi-alkalimetri adalah teknik analisis kimia berupa titrasi yang menyangkut asam dan basa atau sering juga disebut titrasi asam-basa.
Prinsip reaksi berdasarkan netralisasi asam basa.
Reaksi dijalankan dengan titrasi, yaitu suatu larutan ditambahkan dari buret sedikit demi sedikit sampai analit habis oleh titran dan terjadi titik ekivalen pada saat itu timbul perubahaan warna rose itu berarti titik akhir titrasi.
Pada saat ekivalen, penambahan titrant harus dihentikan, saat ini dinamakan titik akhir titrasi.Untuk mengetahui keadaan ekivalen dalam proses asidi-alkalimetri ini, diperlukan suatu zat yang dinamakan indikator asam-basa.
Indikator asam-basa adalah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. Asidi-alkalimetri menyangkut reaksi antara asam kuat-basa kuat, asam kuat-basa lemah, asam lemah-basa kuat, asam kuat-garam dari asam lemah, dan basa kuat-garam dari basa lemah.